Saat saya sedang menulis ini, saya sedang duduk didepan meja belajar. Hening, hanya suara bapak yang saya dengar ditelefon. Tanyaku pada Bapak, dimana Mama ? saya rindu ingin bercerita dengannya tentang kehidupan saya disini. Beliau sudah ada ditempat terbaik dari tempat mana pun yang bisa diberikan Allah kepadanya. Disana tidak ada kesakitan seperti yang merenggut nyawanya begitu cepat jawab Bapak. Saya tahu Mama bahagia, wajahnya cantik saat terakhir kali saya menciumi kening, pipi dan dagunya.
Sepi? dari pada sekeliling, hati saya lebih sepi. Detik ini fikiran saya adalah tempat yang paling ramai, isinya ? kenangan. Saya tidak mau memaksakan kenangan itu pergi, karena mereka lebih nyata dari kenyataan yang saya hadapi sendiri. Perlahan mereka terbang meninggalkan hari ini dan menjadi bagian kemarin yang "berhasil" saya lewati. Bukan tanpa perjuangan, bukan tanpa ketakutan tapi saya berhasil.
Iya saya adalah seorang piatu saat ini, Dan apakah itu buruk ? Tidak. saya memang sudah mempersiapkan diri saya dengan baik. Walaupun kenyataan nya, sebaik apa pun saya persiapkan, tetap saja saya berantakan di sana dan di sini. Itu wajar saja saya masih anak yang cinta mati sama Mamanya. Bahkan cinta saya padanya melebihi hidup saya sendiri. Melepasnya pergi tentu saja lebih sulit dari pada melepaskan apapun yang saya miliki dalam hidup ini. Sayan kehilangan sosok yang mengantarkan kehidupan pada diri saya. Kehilangan macam apa yang bisa yang bisa melebihi kehilagan saya ini. Khayalan saya, tidak ada sepersekian dari rasa sakit yang menghantam hati saya saat ini.
dan kalimat ini yang kerap saya ulang belakangan ini dalam hati :
"Semua akan kembali baik, karena Allah maha baik Tyna." Dan saya ingin tetap hidup kembali baik, tanpa harus saya memperdulikan diri saya dengan buruk. Semua akan baik-baik saja pada akhirnya. Karena kita semua hanya sedang dalam perjalanan menujunya "akhirnya" Saya akan melanjutkan perjalanan. Seperti apa yang pernah saya tulis sebelumnya.
Kita adalah seorang traveler bagi hidup kita masing-masing.
Maka, saya akan terus berjalan menikamati cuaca panas hujan yang jatuh ke membran bumi, mengamati langit biru yang ini untuk menuju kelangit biru yang itu. Bertemu dengannya dan kembali meninggalkanmu. Karena dunia ini hanyalah salah satu destinasi yang kelak akan jadi sesuatu yang "terlewati"Allah memberi saya peta perjalanan, dan dunia adalah satu persinggahan. DIA ingin saya belajar. DIA ingin saya memahami. DIA ingin saya sampai kepada-Nya juga di suatu saat nanti.
Tapi tentu bukan apa-apa, setiap dari kita setidaknya harus bisa menjadi jejak yang berarti di dunia. Bagi diri sendiri begitupun bagi orang lain, karena sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain bukan?
Seperti apa yang tengah Mama hadapi disana, beliau pun hanya sedang melanjutkan perjalanannya. Jalur peta didunianya sudah sampai di ujung. Dan, beliau pun harus melanjutkan perjalanannya di destinasi selanjutnya. Semoga beliau mendapatkan tumpangan yang baik hingga kelak sampai disana, semoga perjalannya terang dan menyenangkan. Amien ~
Mama telah menjadi jejak yang begitu peenting bagi k-3 anaknya selama ia hidup. Jejak yang akan membekas sebagai sujud syukur, bahwa saya dan adik saya pernah tinggal di rahim seorang wanita yang berhati begitu mulia. Wanita yang tak pandai marah, tapi begitu pandai memaafkan.
Oh ya.. saya sedang kangen kamu, Ma. Mama tidak perlu mengkhawatirkan anak perempuannya ini. Karena Allah maha baik dia pasti menjaga tyna dengan baik :)
Terima kasih Ma, walaupun berjuta terima kasih. Tidak akan mampu melebihi kasih sayang mu kepada kami selama ini.
Saya mencintaimu, sangat mencintaimu Ma :*














