Hampir satu tahun saya tidak melihat wajahnya. Tidak membangunkan saya saat sahur di bulan ramadhan. Tidak mendengar suaranya ketika membangunkan saya untuk shalat subuh. Tidak menyapanya setiap kali pagi datang dan yang jelas tidak dapat melakukan apa-apa lagi untuknya. Atau sekedar mencium pipinya.. saya rindu ? kapan tepatnya saya tidak dapat merindukannya. Saya merasa rindu pada mama adalah arti dari symbol bilangan yang tak terhingga.
Karena setiap kali adalah celah kosong yang datang, hadirnya lah yang saya harap mengisi ruangnya.
Karena setiap kali adalah celah kosong yang datang, hadirnya lah yang saya harap mengisi ruangnya.
Salah satu alasan saya dulu memakai jilbab adalah karena saya ingin menjadi anak yang sholehah untuk mama saya sendiri. Kenapa ? karena salah satu alasan dari tiga amalan yang tidak akan terputus ketika seorang manusia meninggal adalah "doa anak yang sholeh". Saya ingin do'a saya sampai padanya, tetap sampai padanya selama saya masih diberi hidup didunia. Dan saya masih merasa sangat jauh dari kriteria sholehah.
Banyak orang menganggap saya di social media adalah bagian dari kaum yang penyabar, nyatanya saya tidak begitu sabaran dan keras kepala pada mama saya sendiri. Well, mungkin hampir setiap anak perempuan selalu merasa "tidak sabaran" pada mama mereka sendiri. Tapi tetap saja itu tidak bisa dijadikan pembenaran untuk membantah dan melawan mama.
Saya hanya menulis ini, karena memang saya lagi rindu sama mama saya. Untuk meyakinkan diri saya juga bahwa kematian atau kepergian orang yang paling berharga lebih dari apapun dalam hidup kita itu bukanlah sebuah kabar buruk. Bahwa kembali pada-Nya adalah sebuah jalan pulang. Mama saya tidak pergi dari sisi saya, Allah sudah terlalu rindu padanya. Karena setiap dari kita hanya sedang melakukan perjalanan, dan kelak pun kita semua akan menyusul pulang :)






